Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengusulkan pembentukan badan riset nasional untuk mengelola kegiatan riset sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi duplikasi penelitian di kementerian/lembaga dan perguruan tinggi.

Saat menjadi pembicara utama dalam acara wisuda lulusan Institut Teknologi Del di Gedung Serbaguna Yayasan Del di Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sabtu (8/9), ia mengatakan, selama ini masih terjadi duplikasi penelitian di lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang) yang ada di kementerian/ lembaga dengan riset di perguruan tinggi. “Saya mengusulkan kepada Bapak Presiden bagaimana Litbang itu jadi satu lah, saya mengusulkan bagaimaa dibentuk badan riset nasional. Bapak Presiden merespons positif, tapi kapannya Beliaulah yang tahu,” tuturnya.

Badan riset nasional, menurut dia, nantinya akan mengatur penugasan penelitian dan pengembangan pada lembaga yang ada di bawah naungannya. Pengaturan penugasan penelitian, ia melanjutkan, akan membuat kegiatan penelitian lebih terarah dan terperinci dengan jelas dan memungkinkan pengelompokan bidang penelitian tertentu untuk badan atau lembaga tertentu sehingga tidak ada tumpang tindih.

“Belum tahu bentuknya seperti apa. Yang menangani itu harus ada mana yang mengurusi penerapan dan pengkajian teknologi, mana yang research (penelitian) prototipe, mana research inovasi, mana research material, mana research di bidang pangan itu harus diklasterisasikan gitu, harus efisiensi anggaran, ini jadi tidak akan terjadi tumpah tindih,” katanya.

“Yang sekarang tumpang tindih. Kalau ini (badan riset nasional dibentuk) terjadi ini breakthrough (terobosan) loh pertama kali loh,” ujarnya, dikutip dari Antara. 

Nasir mengatakan kementeriannya mendapatkan tambahan anggaran riset sekitar Rp400 miliar untuk 2019.

Sementara tahun 2018, menurut dia, kementerian mengelola anggaran riset 2,1 miliar dolar AS atau sekitar 0,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ia mengatakan mestinya anggaran riset sampai dua persen dari PDB. Ia mengatakan anggaran riset Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat, yang menganggarkan 476 miliar dolar AS untuk riset, atau Jepang yang memiliki anggaran riset sekitar 170 miliar dolar AS. (IFR/Elshinta.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here