ankara escort

BIMBINGAN TEKNIS SURVEI DATA IPTEK LEMBAGA LITBANG PEMERINTAH TAHUN 2019

BIMBINGAN TEKNIS SURVEI DATA IPTEK LEMBAGA LITBANG PEMERINTAH TAHUN 2019

Denpasar – Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si. memberikan sambutan pada kegiatan Bimbingan Teknis Survei Data Iptek Lembaga Litbang Pemerintah Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Informasi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (PUSDATIN) Kemenristekdikti yang diselenggarakan di Ruang Khrisna, Kantor LLDIKTI Wilayah VIII pada hari Kamis, 1 Agustus 2019. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Badan Litbang dari beberapa provinsi di Indonesia.

Dalam sambutannya Prof. Dasi menyinggung bahwa negara maju memiliki manajemen penduduk dan transportasinya baik karena didukung dari sumber data lengkap dan survei yang benar, hal ini tidak lepas dari peran serta Badan Litbang yang ada. Data yang benar adalah sumber informasi, informasi yang benar awal dari menghidupkan kepada peradaban dunia.

Beliau menyampaikan “Negara maju dapat menjadi hebat karena didukung dari risetnya. Kekurangan kita adalah data-data yang kita miliki tidak terbarukan (up to date). Karena lemahnya recording dan reporting data ada kalanya menyebabkan pengambilan keputusan keliru. Agar dapat melakukan pengambilan keputusan yang tepat, basis datanya harus akurat. Oleh karena itu kehadiran Bapak dan Ibu sekalian dalam kegiatan Bimtek Survei ini menjadi sangat penting dan strategik sebagai upaya kita untuk membenahi data dan hasil-hasil yang akan diperoleh, untuk kemajuan bangsa. Tidak ada bangsa yang dapat maju dan besar tanpa melakukan riset”. ( DEWI ROZUNA/ristekdikti )

RAKORDA KELITBANGAN SE-KALTIM TAHUN 2019

RAKORDA KELITBANGAN SE-KALTIM TAHUN 2019

TENGGARONG -Rapat Koordinasi Daerah (RAKORDA) Kelitbangan Se Kalimantan Timur tahun 2019 digelar di Hotel Ggrand Elty di kawasan Bukit Biru, Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara hari ini 25 Juli 2019. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Balitbangda Provinsi Kalimantan Timur dan dibuka oleh Staf Ahli Bidang Politik. Hukum dan Keamanan Kantor Gubernur Kalimantan Timur Frananta Filifus Sembiring.

Rakorda Kelitbangan Se Kalimantan Timur 2019 kali ini mengangkat tema Peningkatan Kapasitas Inovasi Daerah Dalam Rangka Mendukung Kalimantan Timur Berdaulat. Rakorda tersebut diisi presentasi oleh beberapa pembicara. Presentasi awal disampaikan oleh Kepala Pusat Kajian Manajemen ASN, LAN – RI Dr.Hary Supriadi, S.H., M.A. Dalam presentasinya dengan mengangkat tema Strategi Peningkatan Pelayanan Publik. Presentasi Kedua disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan Inovasi Daerah dari Puslitbang Inovasi Daerah Kementerian Dalam Negeri RI Dr. Saydiman Marto, M.Si.

Sesi berikutnya menampilkan Kepala Bappeda Litbang Kota Balikpapan Gatoet Swi Darmo Eko yang mengangkat tema Inovasi Daerah Sebagai Upaya Peningkatan Daya Saing Daerah. Pembicara terakhir Kepala Bappelitbang Kota Bontang Edi Prabowo,M.Si dengan materi Best Practice Inovasi dan Kelitbangan Kota Bontang. Dari 2 sesi tersebut berlangsung hangat dengan tanya jawab antara pemateri dan peserta Rakorda yang berisi saran dan kritik berkaitan dengan implementasi inovasi di kabupaten/kota yang mengelaborasi akar persoalan, policy, perencanaan, implementasi dan control pelaporan, dan advice keberhasilan. Di luar ruang Rakorda nampak beberapa UKM di Kaltim yang memamerkan dan memasarkan produk-produknya.(info.prokom/PJ-EY-JR)

SINKRONISASI KEGIATAN KELITBANGAN

SINKRONISASI KEGIATAN KELITBANGAN

SAMARINDA – Kepala Balitbangda Kabupaten Kutai Timur menyampaikan maksud kedatangan mereka terkait dengan Rencana Kerja (Renja) Tahun 2020.

SINKRONISASI KEGIATAN KELITBANGAN foto : maftuhah)

Yaitu koordinasi dan konsultasi kegiatan. Mengingat dalam dokumen rencana selalu ada keselarasan, keserasian, dan keharmonisan. Untuk itu mereka datang guna menyelaraskan kegiatan Litbang Kutim dengan kegiatan yang dimiliki oleh Balitbangda Provinsi Kaltim. (maftuhah)

Manisa escort

PROSES IZIN PENELITI ASING DI INDONESIA AKAN DIPERMUDAH

PROSES IZIN PENELITI ASING DI INDONESIA AKAN DIPERMUDAH

Dikutip dari republika.co.id,– Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir akan menyederhanakan proses izin peneliti asing di Indonesia. Proses izin riset nantinya akan dilakukan satu pintu dan bisa diakses melalui daring.

Nasir mengatakan, selama ini peneliti asing seringkali mengeluhkan rumitnya proses izin di Indonesia. Akibatnya, banyak peneliti dari negara-negara maju yang urung meneliti di Indonesia.

“Sekarang sudah pendek proses izinnya, sistemnya juga online. Mulanya proses izin meneliti di Indonesia terkenal rumit karena harus meminta izin ke beberapa lembaga, nah ini kan masalah,” kata Nasir di Gedung Kemenristekdikti Jakarta, Kamis (7/2).

Kendati demikian, dia mengaku, proses izin melalui daring masih belum berjalan secara optimal. Namun dia berjanji akan segera melakukan perbaikan agar proses izin secara daring bisa berjalan.

“2019 kami akan paksa kan agar sistem online bisa berjalan dengan baik. Karena saat ini masih belum optimal,” jelas dia.

Sementara itu, Dubes Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik, mengapresiasi komitmen pemerintah yang akan menyederhanakan proses izin bagi para peneliti luar negeri tersebut. Karena menurut dia, proses izin yang rumit dan tidak efisien menjadi salah satu kendala bagi peneliti Inggris untuk melakukan penelitian di Indonesia.

Padahal, dia optimistis jika proses izin disederhanakan, maka pembangunan dan ilmu pengetahuan di Indonesia akan semakin berkembang. Karena nantinya akan ada proses transfer pengetahuan dan pengalaman antara kedua belah pihak.

“Tapi kalau bisa jangan hanya masalah riset yang izinnya dipermudah. Proses lain seperti usaha, studi dan bidang lain juga harus agar pembangunan di Indonesia semakin cepat,” kata Moazzam. (republika/msr)

Aydın escort

APA KENDALA PENELITI INDONESIA MENULIS DI JURNAL INTERNASIONAL?

APA KENDALA PENELITI INDONESIA MENULIS DI JURNAL INTERNASIONAL?

Pada 2017 Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Mohamad Nasir menerbitkan peraturan yang mengharuskan adanya tulisan ilmiah dari setiap dosen untuk mendapatkan tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan guru besar. Peraturan ini membuat banyak dosen yang belum terbiasa menulis di jurnal ilmiah internasional dengan reputasi tinggi gugup.

Mengapa menulis di jurnal internasional membuat banyak dosen gamang? Dan apakah publikasi merupakan ukuran yang baik untuk mengukur kinerja peneliti?

Tulisan ini menceritakan kendala-kendala yang dihadapi peneliti Indonesia untuk menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional. Tulisan ini juga membahas masalah yang ada pada sistem pengukuran dampak riset yang didasarkan pada sitiran artikel ilmiah.
Proposal, penelitian, lalu publikasi

Salah satu dari kami (Dian Fiantis) merupakan salah satu penelaah sejawat untuk menilai kelayakan proposal penelitian untuk mendapatkan pendanaan atau tidak dari Kementerian Ristekdikti. Dian sudah menjadi penelaah sejawat proposal sejak 2013 dan rata-rata setiap tahun menelaah 15 proposal kecuali pada 2018 karena kesibukan.

Proposal penelitian adalah tahap awal dari proses riset, yang berakhir dengan diseminasi temuan riset dalam bentuk artikel ilmiah.

Banyak kelemahan yang ditemukan Dian ketika menelaah proposal penelitian yang masuk. Ide yang ditawarkan banyak yang kurang kreatif dan aktual. Ada juga yang hanya merupakan duplikasi atau daur ulang dari penelitian sebelumnya.

Para dosen kerap mengatakan bahwa terbatasnya akses terhadap publikasi yang sudah terbit merupakan salah satu faktor penyebab dari ketiadaan ide baru. Kementerian Ristekdikti telah mencoba mengatasi masalah ini sejak 2015 dengan berlangganan jurnal-jurnal ilmiah internasional.

Kementerian juga tiap tahun menyelenggarakan klinik penulisan artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional bereputasi. Dosen dipersilakan untuk mengirimkan naskah yang sudah dibuat dan seleksi diadakan berdasarkan naskah yang masuk. Penyelenggaraannya di berbagai kota di Indonesia dan setiap kegiatan diikuti 50 orang peserta. Pada 2018 Kementerian mengadakan kegiatan 10 klinik penulisan artikel, antara lain di Bogor, Bandung, Padang, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, dan Makassar.

Tujuan klinik penulisan artikel ilmiah untuk memberikan pencerahan dan wawasan cara menulis ilmiah yang baik. Delapan narasumber memberikan berbagai topik untuk sukses menulis naskah ilmiah. Naskah peserta juga dibahas di dalam klinik tersebut. Dian juga ikut sebagai salah seorang anggota tim narasumber sejak 2012.

Namun, selain masalah kreativitas dan kebaruan ide, bahasa menjadi salah satu kendala lain. Sebagian besar artikel ilmiah internasional terbit dalam bahasa Inggris. Bagi para peneliti Indonesia yang proses pendidikannya tidak dibekali dengan pendidikan bahasa Inggris yang memadai akan sangat mengalami kesulitan.

Bagi mereka yang lolos mendapatkan pendanaan, telah melaksanakan penelitian dan mendapatkan temuan hasil penelitian, dan juga dapat menulis dalam bahasa Inggris, belum serta merta dapat lolos saringan editor dan penelaah sejawat dari berbagai jurnal kelas atas.

Proses penerbitan hasil penelitian di jurnal menuntut kesabaran dan ketekunan. Telaah dari penelaah sejawat yang rinci kadang membuat peneliti hilang kesabaran. Sebagian dari peneliti merasa hasil yang didapatkannya sudah terbaru dan sempurna. Tapi tidak jarang editor dan penelaah sejawat menyatakan sebaliknya. Terbitnya naskah ilmiah pada jurnal bereputasi internasional memerlukan tahapan yang bisa mencapai satu atau bahkan dua tahun.
Mengatrol skor sitiran

Sulitnya pekerjaan riset menjadi berlipat ganda bagi peneliti di Indonesia yang kini menghadapi dilema: untuk mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Ristekdikti mereka harus menunjukkan hasil publikasi ilmiah dalam jurnal yang terindeks Scopus, pusat data ilmiah komersil yang berbasis di Belanda. Sementara untuk menerbitkan karya ilmiah, terlebih di jurnal kenamaan, memerlukan data dari hasil penelitian.

Banyak dosen yang resah karena sejak 2018 dosen yang ingin mengajukan proposal penelitian harus sudah memiliki skor H-index Scopus minimal dua untuk bidang sosial dan tiga untuk sains.

Karena merasa sulit menembus jurnal internasional bereputasi, maka beberapa dosen Indonesia mengambil jalan singkat untuk menyelenggarakan lokakarya dan seminar internasional di perguruan tinggi. Luaran dari kegiatan ini berupa prosiding–umumnya abstrak dari penelitian atau makalah presentasi yang tidak ditelaah secara baik oleh penelaah sejawat–yang kemudian didaftarkan ke Scopus.

Jalan singkat lain untuk menaikkan indeks Scopus adalah memanipulasi jumlah sitiran. Rizqy Amelia Zein dari Universitas Airlangga telah menulis mengenai tindakan sitasi selfie atau self citation, yaitu menyitir artikel sendiri. Ini adalah jalan paling mudah untuk membumbungkan jumlah sitiran dan H-index scopus. Jalan ini ternyata banyak juga ditempuh oleh peneliti internasional.

Selain menyitir karya sendiri, beberapa peneliti terkadang membangun kartel sitiran. Untuk lebih cepat meningkatkan jumlah sitiran, beberapa peneliti bergabung dan saling menyitir artikel kelompok tersebut.

Beberapa waktu lalu, ilmuwan tanah dari Spanyol kedapatan sebagai gembong yang mengerakkan sekumpulan ilmuwan yang saling mensitasi artikel anggota tersebut. Alhasil H-index gerombolan tersebut melonjak tinggi. Salah satu anggota kartel tersebut diberhentikan menjadi editor beberapa jurnal sementara seorang anggota lainnya diperiksa oleh Universitas Wageningen sebagai tersangka pelanggaran etis.

Apa solusinya?

Sebaiknya, Kementerian Ristekdikti tidak hanya menjadikan kuantitas publikasi dan skor H-index Scopus sebagai tolak ukur keberhasilan program penelitian dan publikasi internasional. Kualitas artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal internasional bereputasi lebih bermakna.

Untuk rekan sejawat dosen Indonesia, alangkah baiknya kita berlomba meningkatkan kualitas hasil penelitian dan publikasi ilmiah. Rentang waktu yang agak lama ketika proses revisi naskah ilmiah oleh para reviewer mari kita sikapi sebagai proses peningkatan kualitas saintifik kita.

Ketika artikel terbit di jurnal bereputasi, akan menarik perhatian kolega ilmuawan dunia bila dibandingkan dengan terbitnya artikel kita di prosiding seminar.

Bagi para ilmuwan dunia, prosiding bukan tempat mereka mempublikasikan hasil penelitiannya. Jurnal sekelas Nature dan Science itulah yang mereka impikan dan layak diimpikan setelah kita terbiasa menulis dengan kualitas tinggi.(theconversation.com)

İstanbul masaj salonu

DUKUNGAN SWASTA UNTUK RISET KANKER DI INDONESIA

DUKUNGAN SWASTA UNTUK RISET KANKER DI INDONESIA

Ketika membahas tentang penyakit kanker, istilah kanker hati dan kanker kolorektal (usus besar) mungkin masih terasa asing di telinga masyarakat Indonesia. Padahal, keduanya termasuk ke dalam jenis penyakit kanker yang paling umum diderita masyarakat, khususnya di Indonesia.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kanker kolorektal merupakan kanker yang kejadiannya menempati urutan kedua terbesar sebagai jenis kanker yang terdiagnosa pada pria dan ketiga pada wanita. Tak jauh berbeda dengan kanker kolorektal, kanker hati juga banyak diderita di Indonesia. Menurut data Globocan, pada 2012 terdapat 782.451 penderita kanker hati di seluruh dunia, sebanyak 18.121 penderita berasal dari Indonesia.

Menanggapi fenomena ini, Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) sebagai lembaga penelitian kanker terdepan di Indonesia memfokuskan penelitiannya di bidang kanker hati dan kolon. Di institusi penelitian yang terletak di Tangerang ini, fokus penelitian dipusatkan pada upaya untuk memahami perkembangan mutasi genetik dan pengaruhnya terhadap pasien kanker.

“Fokus penelitian MRIN adalah kanker hati dan kanker kolon. Hal ini karena keduanya merupakan jenis kanker yang sering ditemui di Indonesia dan seringnya penderita yang didiagnosa sudah dalam stadium lanjut. Selain itu, kanker hati yang disebabkan oleh infeksi Hepatitis B Virus (HBV) atau Hepatitis C Virus (HCV) berkepanjangan juga memiliki prevelensi yang cukup tinggi di Indonesia,” jelas Ivet Suriapranata selaku Principal Investigator di Mochtar Riady Institute for Nanotechnology, Senin (7/1).

Lebih lanjut Ivet menjelaskan bahwa penelitian kanker yang dilakukan di MRIN mencakup bidang genomic (berdasarkan profil gen) dan proteomic, (berdasarkan pada sifat protein). Ivet juga menambahkan bahwa riset yang dilakukan mencakup prediction (prediksi), prevention (pencegahan) dan treatment (pengobatan)atas penyakit kanker.

“Prediction bertujuan untuk mengidentifikasi variasi genetik di gen tertentu yang ada di Indonesia yang berasosiasi dengan kerentanan seseorang terhadap kanker hati dan kanker kolon,” katanya.

Sedangkan untuk cakupan pencegahan atau prevention, MRIN meneliti terkait efek obat tertentu yang berkaitan dengan sensitivitas terhadap insulin. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah obat tersebut mampu mengurangi perkembangbiakan sel kanker hati dan kolon baik secara in vitro atau pada kultur sel kanker maupun in vivo atau pada hewan yang diuji coba.

“Sedangkan untuk treatment, kami meneliti potensi infeksi virus terhadap peningkatan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker sebagai alternatif dari pengobatan imunoterapi yang dilakukan dalam pengobatan kanker. Kami berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi secara ilmiah untuk memahami terjadinya kanker hati dan kanker kolon, serta upaya pencegahannya,” ujar Ivet.

Dalam menjalankan penelitiannya ini, Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) banyak melakukan kerjasama dengan berbagai kampus, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Kami terafiliasi dengan Universitas Pelita Harapan. Selain itu, di dalam negeri kami bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Universitas Bina Nusantara dan Klinik Hati Prof. Ali Sulaiman. Sedangkan untuk di luar negeri, mitra kami di antaranya adalah University of New South Wales (UNSW) di Australia dan Biola University di Amerika Serikat,” jelasnya.

Berkat kegiatan penelitiannya ini pula, MRIN banyak menerima peghargaan baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, hasil penelitian bertajuk potensi Newcastle Disease Virus-like particles sebagai targeted therapy terhadap tumor karya peneliti MRIN, Teridah Ginting Ph.D meraih penghargaan sebagai finalis pada Ristek Kalbe Science Award di bidang Biomedis.

“Untuk dalam negerinya, kami juga meraih Best Presenter pada Liver Update 2018 yang diselenggarakan Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia di Jakarta untuk riset berjudul Administration of Metformin Inhibit The Expression of SREBP-1c in Type 2 Diabetes Mellitus Rats-Induced Liver Carcinogenesis,” tuntasnya.(merdeka.com)

İzmir masaj salonu

mersin escort | eskişehir escort | escort mersin | mersin escort
konya escort
porno izle seks hikaye